Saat kau mampir di dekat jalan nafsumu

Kau boleh manatapnya saat kau memang sudah benar benar ingin menatapnya dan jangan kau menatapnya pada katub dua pundar kedua matamu itu,duhai sang penakluk malam. Karena mungkin dia masih belum sempurnah memancarkan tata cahaya kedua matanya untuk mempesonakan perasaanmu padanya. Pada saat kau benar benar telah menjeratnya dari debu kotor jalan yang menempel di otak bengis kenafsuanmu sendiri. Ach! tak pernah ada kan sorot mata kagummu itu kau biarkan begitu saja pada lekuk tubuh sang malam nafsumu?

Duhai sang penikmat malam

Entah berapa lama kau hanya mencumbui sorot mata nafsumu pada pernik kerlip mataku malam ini. Namun tetap saja kau hanya menatapku dan memang sekedar menatapku. Apakah puas kau nikmati sorot mata nafsumu dengan hanya menatap senyum kebencianku pada syahwat otakmu? aku ingin menjeratmu dengan tali luka ini beberapa detik saja tetapi mana sempat kau berikan saat aku mengeluh saja kau tak mau mendengarnya. Dan engkau memang hanya ingin mempermainkan nafsumu di sudut kerlip kedua bola mataku kan? Lalu sampai kapan,pangeran malam malam durjanah.

Letih aku meniduri sayup sayup matamu tetapi kau masih mengungkapkan keinginanmu tuk mencumbui kelelahan kelopak mataku yang hampir menangis dan mengalirkan butiran butiran bening di pipiku. Sampai kapan kau akan  duduk di dekatku sementara kau hanya terdiam menikmati kelelahan mata ku. Dan hanya terdiam.  Sudah ku beri kesempatan untuk kau tiduri dan rangkul kerlip nakal bola mataku namun tetap saja engkau hanya terdiam mempermainkan sorot nafsumu sendiri di sini, disebelah dudukku yang tetap tak mengerti sampai kapan kau akan menikmati sorot mata durjanah mu sendiri.

(duhai engkau penikmat malam malam yang melelahkan sorot mata nafsumu sendiri…..)

Iklan