Duduk maniz nak disini. Dekat bunda ya. Jangan bergerak, nak, bunda akan selalu ada disini. Disampingmu. Dihadapanmu. Dipelukkanmu. Dibuaian kecupan kasih sayangku untukmu,nak. Jangan pernah berlari lari kesana nak, jangan nanti bunda susah tidak bisa menemuimu. Nanti bunda tidak bisa menggenggam tangan mungilmu nak. Jangan berlari…………………..

Duduk diam dalam dekapanku sekali ini yah nak. Lihat, masih ada tangan yang akan menggenggam tanganmu nak , masih ada jemari yang akan menghibas helaian rambutmu,nak. Dan masih ada pelukkan penuh kasih sayang bunda untukmu. Sekali ini. Sekali saja,nak.

Nak, masih tertidur ya saat bunda meendongengkan cerita para pejuang serta para pahlawan malam itu yah nak. Masih lihat bunda betapa nyenyaknya mata pejamanmu dalam mimpi mimpi kesucianmu,nak. Bunda yakin kamu masih ada dalam mimpi indah pada malam malam itu. Pada bunyi seruling sang Kuasa .  Pada deburan jantung sang Pencipta. Pada angin yang bersenadung begitu kerasnya ya, nak, hingga engkau masih tertidur lelap dalam mimi mimpi kesucianmu. Andai saja bunda tidak kebelakang untuk mengambil segelas air minum untukmu saat engkau terjaga pasti bunda…………

Nak! jangan bangun dari mimpi sucimu,nak. Jangan pernah bangun dalam mimpi mimpi itu. Bunda tak kuat nak Bunda tak bisa menggapai mu, bunda tak mampu menompang tubuhmu dari  bayangan badai itu,nak. Bunda. “Dia masih tertidur di kasur,pak saat air itu menerobos masuk ke rumah kami. Anakku masih menunggu segelas sir minum dari ku saat air itu datang menyeret dan menenggelamkan anakku. Aku masih menunggu ia datang disini,mbak untuk meminumkan segelas air untuk anakku tersayang. Tapi kini………………..semuanya telah membeku dalam mimpi mimpi kesuciannya. Semuanya!

(Dan sahabat mau kan membuka mata hati kalian untuk sekedar mendoakan pada para korban banjir situ gintung?Atau membantu semampu kalian……….)

Iklan