Dia lelaki di batas ketidak berdayaan

Berapa kali dia mencium ujung jemari tanganmu, duhai kekasih hatiku. Kekasih yang sempat membuatku tersentak karena berani mengutarakan keinginan yang benar benar belum sempat ku jawab. Lelaki yang di tengah jantung hatinya ada namaku terukir indah dalam bautan tinta emas kepercayaan serta sinar cinta yang (mesti) aku menutupkan kedua kelopak mataku namun cahayanya benar benar menyinari sekujur perasaan jiwaku. Berapa kali pula kau henduskan wangi parfum kesetiaannya semenjak dengan sempurnanya engkau tinggalkan dalam batas yang tak bisa ku pahaminya ia begitu lamanya. Padahal……..ia sudah mengganti wanginya dan membuang aroma yang dulu sering kau henduskan di sekujur tubuhnya. Bahkan berkali kali ia menggatinya tanpa ada pernah tanya padamu, duhai sang kekasih yang ada dalam batas ketidak berdayaan cinta.

Dia……memang  senang dengan parfum yang baru

Dan dikau yang memiliki sayap sayap cinta, mengertilah dengan sepenuh hati kalau dianya memang sedang ingin menerbangkan aroma wangi di sekujur tubuhnya pada sang Elang. Mungkin sempat ia mencoba kembali ke sarang cinta yang lama namun sampai lelah pun ia tak pernah bisa menemukan sang elangnya di sarangnya bahkan menemukan hendusan wangi di tubuhnya saja tak dapat. Dikaukah dengan sempura mengharapkan terbang menjauh dari sangkarnya duhai sang elang lalu beberapa musim pun akhirnya kau datang

Tetapi mengertilah sang kekasih

Bahwa dia sudah terbang menjauh dalam aroma wangi yang mungkin lebih segar dari aroma wangi cinta yang pernah kau tawarkan padanya. Atau mungkin kau sudah terlalu lama menerbangkan sayapnya hingga tanpa jedah pun engkau telah mengiriskan hatinya dengan kebimbangan? Ach! biarkan ia menebarkan wangi parfumnya pada sang waktu

(salam hangat tuk para elang di manapun berada..)

Iklan