Aku datang menjemput ajal pekatmu, duhai sang malam

datang dalam ketidak pastian langkah sang niat untuk sekedar menyapa kegelapanmu. Ya, inilah aku, yang di ujung jemari tanganku telah tergores luka sayatan dan di lingkar leher harapanku sudah melingkar kalung bermata duka. Duka yang sebelum sebelumnya sudah menyapa jiwa jiwa kelemahanku. Jiwa yang selalu saja memberontak di setiap mengingat lembaran lembaran masa laluku. Jiwa yang sampai saat ini masih terkurung di dalam keperihan sang CINTa.

Aku datang sekali lagi menyapamu dengan lembut, duhai sang malam.

Sebuah sapa yang mungkin enggan kau pelihatkan rasa simpatikmu atas duka yang ada di jiwaku. Ya, mungkin engkau seakan akan menoleh tetapi tidak menghadapinya. Engkau seakan mendengar namun seperti sebuah bisikan sang angin malam. Atau engkau marah karena aku lupa menitipkan pesan doa di setiap kujunganmu di pekatnya malam malamku?

(Selembar doa yang kalian titipkan di ujung nafasmu akankah sampai kau lupakan sahabat?)

Iklan