Sejatinya memang mestinya engkaulah pelabuhan hatiku

semestinya aku pulah yang akan mengajakmu berlabuh di samudera dekat pantai perasaan kita berdua, perasaan yang seumur hari dan waktunya telah kita baptiskan untuk menjadi satu kesatuan yang tak akan pernah terpisahkan. Meski angin berhembuskan sedikit cabar buruk tentang masa masa yang pernah engkau lewati . Meski di ujung harinya daku belum bisa memberikan seuntai mutiara mutiara  dan hanya sebuah simbul kesetiaan yang selalu ku agung agungkan untuk menjadikannya seperti batu permata. Tetapi dikau menyetujinya kan sayang. Engkau menerimannya dengan segala resiko yang memang sepantasnya engkau ada di sangkar emas bukan di hemperan jalan berdebu saat bersama ku.

Duhai engkau yang selalu menyertakan senyum maniz sama seperti saat pertama kali aku memperlihatkan kesukaannya pada senyum yang engkau miliki. Kemarilah mendekat………….dengarkan degup jantung ku yang selalu saja mempercepatkan keinginan untuk selalu menyatukan jiwamu dan jiwaku. Menyeatukan bisikan hasratmu dan hasratku. Menyatukan kelopak warna sikapmu dan sikapku. Dengarkan pula debar di sudut hatiku……………yang terdengar selalu memujamu. Yang terdengar selalu menyebut namamu. Yang terdengar kazat dalam kesyahduan sapa sama seperti suara adzan yang berkumandang di gelapnya malam.

Kemarilah mendekat dan mendekaplah dengan penuh keikhlasan untuk menerima aku sepeti engkau menerima jiwaku untuk berbagi segala hal.  Karena akulah nahkoda kapal kehidupanmu saat ini dan saat laut tak lagi seperti laut………..

ma pay jalan satapak

ngajugjug ka hiji lembur

henteu malire kacape

sebab aya nu di teang…………..

hujan angin dor dar gelap

taya pisan keur ngiuhan

sanajan awak rancucud

bet asa karunya teuing…….( mawar bodas………………..darso)

(salam hangat tuk pernikahan sahabatku…………..)

Iklan