detik lebih bermakna saat engkau meletakkan nyawa dalam nafasmu seketika malamnya purnama menjelang. Dengan bunyi yang persis menyerupai rasa perih di jiwa jiwa yang semalam tadi engkau taburi dengan tusukan yang menyiksa derita CinTA mu sendiri. Derita adalah sebuah kembang yang sedang merekahkah kuncup ketidak becusan dalam kelopak hubungan antara senyawa hasratmu dengan molekul molekul ketidak percayaannya akan satu kumpulan atom di gerak dan langkah sepanjang penjarakkan antara dua senyawa itu sendiri. Ach! sesulitkah mengartikan filsafat jiwamu duhai engkau yang selalu menyegarkan kedua mata bathinku. Sedangkan kumbang yang sedang menyunting sari pati madumu ini selalu datang dengan keperdulikan akan sebuah sentuhan kasihmu.

Ach! betapa merindunya tangkai jiwaku akan kehadiran tawa serta senyum manismu, duhai kekasih yang selalu di kelopak matamu ada pancaran kasih sayang yang tulus. Ya, akulah sang kasih yang sangat merindukan akan hadirmu di penghujung malam malam lewat angin mimpiku. Kemarilah mendekat dengan tidak membawa luka itu lagi, sayangku. Letakkan ujung durimu dari tangkai lukamu kasrena aku sang kasih yang tak begitu sigap menerima tusukan tusukan lukamu di tepatnya jantungku.

Tetapi seumpama engkau masih mengharapkan untuk menusukku. Lakukanlah dengan kesempurnaan niatmu untuk benar benar menghilangkan rasa perihmu akan kehadiranku di malam malam impianmu tentang seorang kumbang yang selalu membawa sari madumu disetiap engkau menginginkannya. Karena akulah sang kumbang yang tak akan pernah bisa mneghiasi symphoni malam malammu.

(pernah putus karena kesalah pahaman sahabatku?)

Iklan