Duhai penyejuk rumpun jiwaku………

Sudut mana lagi yang akan kau minta supaya aku melukiskan namamu bahkan menjumput perasaanku padamu? Jangan menjerit di tengah gerimis kerinduanmu, duhai sang rembulan yang menyempurnakan sinar kasih sayangmu. Ta akan pernah kau temukan tetesan tetesan bayangannya karena disana hujan lebih tenang dengan gerimisnya sesaat dari pada menari narikan kesan kerinduannya padamu. Karena gerimis lebih indah kala langit tak begitu kelam dan memberatkan hitamnya duka. Karena gerimis lebih tenang tatkala burung burung kasuari tak lagi mendendangkan suara suara harapnya. Karena gerimis tetaplah sebuah gerimis yang menyayatkan suara tangisan langit kerinduanmu padanya.

Pada kekasih yang mungkin belum sempat kau sempurnakan tali kasihnya yang terlilit di ambang kegalauan hatimu sendiri. Pada kekasih yang semusim perempatan jalan waktumu terhalang impian yang menggelisahkan malam malamnya malam. Kekasih yang sebagian rasanya telah kau campuri dengan sapa kecutnya duka kecemburuanmu. Kemudian kau berlari menjemput harapan yang kata kaca mata bathinmu dia bukanlah sang gerimis langit mu sendiri. Kemudian dengan kejujuran senyummu kau mulai menyapa hujan yang begitu lebatnya sesuatu yang hanya kau impikan. Kau hujani cinta yang menyapa kemaren tadi dengan sambaran petir asa keputusanmu. Engkau dengan bijak tetap bermain di bawah hujan yang disertai petir petirnya riangmu tanpa memperdulikan sebagian langit yang tetap menyambut cintamu………engkau lebih terlena dengan hujan hujannya.

Dan ada pada akhirnya………..

Engkau menangis dalam gerimis yang datang semalam di rumah cintamu yang telah kau lupakan. Dan kau bisikan kalimat syahdu rayumu pada gending langit langit jiwaku, kau katakan………..Aku masih menyukai gerimismu!Dan aku terusik oleh dentuman gemericik rinai rinai sapa hangatmu. Lalu kemudian selanjutnya……kau mencoba mendekap dan berlindung di tengah tengah gerimis rindumu dengan sekehendak hatimu. Dapatkah kau dengarkan duhai kekasihku……. Aku tak bisa menerima mu bermain di tengah tengah gerimis cintaku. Engkau tak bisa menyenandungkan lagu lagu rindumu pada langit jiwaku. Karena cinta telah tertinggal di peremnpatan waktumu sendiri tempo hari.

( tuk semua maestro bloger yang mengharapkan tulisan cinta dariku……….bang langit dengan warna yang bisa di terima musimnya, tuk mas goenoeng yang selalu memberi ruang tuk blue belajar dan belajar memahami apa yg sesungguhnya harus di postingkan, tuk mang cantigi yang respons posittif atas karyanya yang selalu membahanakan rasa kagumku pada seni, tuk mas nug yang selalu mencerahkan karya dasyatnya lewat keuniqkan ficturnya yang blue belum bisa melakukannya lalu para sahabat sahabat blue yg (mungkin) sedang mencintai kejujuran dalam mencintai seni itu sendiri…….))

Iklan