Kenapa sayang!

Kenapa tak pernah kau ungkapkan semua permasalahan yang terjadi diantara hatimu dan buah pemutusanmu padaku? Kenapa? Bukankah semenjak engkau telah memastikan kalau hatiku akan selalu menyatu dalam segala perasaan yang engkau rasakan juga! Bukankah sudah semestinya engkau menentramkan jiwamu dalam dekapan peluk hangat dari pelukanku sendiri! Ada apa sebenarnya ini,sayangku! Apakah dedaunan enggan menerima butiran butiran embun di pagi harinya? Apakah jendela mesti tetap berkasat dalam endapan kristal kristal sisa hujan yang turun di gelapnya malam semalam tadi? Apakah mungkin, sayangku! Berbisiklah dengan lembut di telingaku…..ya dekat sangat telingaku, sayang! Lontarkan dengan bahasa tangismu yang bijak saat engkau ingin mengutarakan permasalahan diantara kita berdua. Berbagi bisiklah dengan ketentraman jiwamu jika memang itu keikhlasan tuturan hati nuranimu. Karena di mata bathin tidaklah ada kesunyian bayangan dirimu. Karena akulah darahmu. Darah yang akan terus meneteskan cairan cinta di dalam genggaman tanganmu, di jantung harimu dan seluruh ragamu.

Ada aku bila engkau ingin berbagi, duhai kekasihku………..

Engkau begitu sangatlah ku dambakan bahkan untuk ku miliki di sepanjang kehidupan ini. Jangan kau titipkan sekali lagi bisikan lelah jiwamu akan pengorbanan cinta diantara kita. Jangan engkau tuturkan dengan kelengkapan atas keputusanmu untuk menyudahi semua perjalanan cinta yang sudah kita jalani bersama sama. Karena aku adalah darahmu. Darah yang akan terus mengukir namamu, cintamu di dasar jiwaku. Meski letih terus ada. Meski lelah akan tetap mensinyalir perasaan ragumu akan diriku.

(tuk mahardika with kekasihnya, tuk mas imam with kekasihnya…..semoga tak pernah merasa lelah tuk berbagi cinta!)

Iklan