Aku memang tak pernah berharap untuk bisa engkau pahami apa yang sesungguhnya aku inginkan dalam kehidupan ini, karena aku sendiri belum bisa memastikan apa yang sesungguhnya terjadi dengan diriku dan sekitarku, kawan! Tak akan pernah aku bisa memahami apa pun yang sebenarnya engkau butuhkan untuk bisa menyenangkan hati dan jiwamu demi kelangsungan hidupmu. Aku teramat lelah dan sangatlah letih untuk sekedar menyapamu lewat kabar kabar angin yang mungkin bisa engkau baca. Atau lewat gemuruh ombak yang sangatlah mungkin engkau menjelaskannya. Karena ketakutan mu seakan akan tak pernah ada lagi. Ketakutan hanyalah sebuah simbolis bak sinetronnya kaca kaca kemunafikan.Β  Penuh intrix namun tetap tak bisa menjelaskan akhir dari keterlibatan harapan itu sendiri. Sebegitu parahkan engkau bisa dengan seenaknya melumat sajian sajian yang kadang hanya sebuah imajinasi nalar kebodohan saja?

Ach, aku tetap tak pernah mengerti, kawan! Tak akan pernah memahami semua yang ada di dalam pemikiranmu tentang aku dan sekitarku. Karena nafsu lebih menjantankan egomu. Karena iblis telah mengotori vagina akal sehatmu. Lalu sampai kapan engkau akan bisa menerima kehadiranku dalam kancah yang sebenar benarnya, kawan! Terlalu sakit aku melihat banyak tangisan serta rintihan yang ku dengar dan kulihat saat aku datang dalam gelombang yang mungkin tak pernah engkau duga. Berhentilah menjadi penggagas sinetronnya akal kerakusan duniawimu. Jadilah rawa untuk menerima hujanku. Jadilah keteduhan saat sentilan anginku menyapa agakΒ  keras. Dan jadilah sahabat untuk sabda alam yang mungkin akan segera punah.

 

sekitar rawa rawaΒ  pinggiran bogor

Mau kan peduli dengan lingkungan sahabat?

Iklan