Tuuuuuuuuuuut!

kenapa

kenapa masih saja kamu tutupi hidung mu saat aku hendak buang angin? Apa tak ada yang lebih busuk wanginya selain bunyi kentutku,sayang. Apa kamu terlalu risih menerima angin yang ku keluarkan di bandingkan dengan angin dari seseorang yang terkadang belum sempurna kamu ketahui akhlaknya! Sedemikian parahkan bunyi kentutku hingga kamu keseringan menutupi hidungmu. Dengarlah, manizku! Dengar dengan kebajikan hati dan jiwamu. Coba kamu dengarkan kentut yang di keluarkan oleh para pejabat yang memiliki bokong yang penuh dengan sampah dan kotoran. Apa kamu keseringan mendapat jor joran sampah yang dikeluarkan saat pemilu akan segera berlangsung sehingga kamu tetap cuek menerima bunyi kentut mereka. Di bandingkan bunyi kentut ynag kamu dengar hanya sesekali namun sering kali membuatmu bahagia tanpa janji janji dan juga tanpa basa basi.

TuuT!

masih saja kamu tutupi hidungmu malam ini, sayang! Kenapa lagi? apa kurang banyak info yang ku berikan untukmu tentang sebuah kisah perkentutan di zaman yang entah sampai kapan rakyatnya terlepas dari segala amukan bara kemiskinan ini. Bukalah hidungmu danΒ  biarkan angin itu kamu dengarkan atau sejenak kamu nikmati kalau kamu mau menerima hakekat kentut yang sangat indah ini. Please! Jangan ya maniz. Jangan kamu tutupi hidungmu dari bunyi kentut ku atau dari kentut orang pinggiran yang jelas jelas masih saudara kita. Berkentutlah dengan sesuka hatimu. Karena kentut itu sangat indah jika kita memberi bokong kita dengan santapan hasil dari sebuah kejujuran. Jadi kentutlah dengan indah ya, sayangku. Kentutlah dekat bibirku.

entah untuk siapalah yang mengerti akan kentut orang yang terkadang kita sepelekan )

Iklan